LINK TERKAIT
















Hari ini tanggal :
27 May 2017
M S S R K J S
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Potensi Pertanian


Potensi Pertanian

1963 Sensus pertanian pertama. Cakupan wilayah: daerah perdesaan di seluruh Indonesia, kecuali Irian Jaya (Papua). Satuan wilayah sensus terkecil adalah lingkungan. Tujuan utama: mendapatkan data statistik di sektor pertanian yang dapat menggambarkan struktur pertanian di Indonesia. Data yang dikumpulkan: penggunaan lahan, irigasi, penggunaan pupuk, ternak, rumah tangga pertanian, tenaga kerja pertanian, fasilitas transportasi untuk menjual hasil pertanian, alat-alat pertanian. Hasil sensus belum sempurna, disebabkan antara lain presisi sampling design rendah, response rate belum optimal, dan Landreform yang dilancarkan pemerintah dengan UndangUndang No.5 Tahun 1960 yang berpengaruh terhadap jawaban responden. 1973 Sensus Pertanian yang kedua Cakupan wilayah: daerah perdesaan dan perkotaan di seluruh Indonesia, kecuali Irian Jaya. Satuan wilayah sensus terkecil adalah blok sensus. Pengumpulan data pada pertanian rakyat, perkebunan rakyat dan perkebunan besar, perikanan laut dan perikanan tambak dilakukan secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda. Pencacahan perkebunan besar dilakukan secara lengkap, sedangkan untuk perikanan laut dan tambak hanya dilakukan pada blok sensus terpilih di Sumatera, Jawa, dan Bali. Data yang dikumpulkan: (a) struktur pertanian rakyat yang meliputi data penguasaan dan penggunaan lahan pertanian; struktur tanaman musiman dan tahunan; peternakan; perikanan laut dan darat; peralatan pertanian; pengairan; pemupukan; dsb. (b) Potensi pertanian masing-masing desa yang meliputi luas dan penggunaan tanah; keadaan pengairan dan potensi pengairan; fasilitas pengolahan; pemasaran; pengangkutan dan penggudangan; mekanisme pertanian; perikanan; koperasi; dsb. (c) Data perkebunan besar seperti struktur perkebunan; jenis tanaman; luas dan produksi; pengolahan hasil perkebunan dan pemasarannya; dsb. (d) Data perikanan laut yang meliputi rumah tangga perikanan; alat-alat penangkap ikan; perahu/kapal perikanan; penanaman modal; dan jumlah nelayan. 1983 Sensus pertanian yang ketiga. Cakupan: semua kegiatan di sektor pertanian (kecuali kehutanan dan perburuan) di seluruh Indonesia, termasuk Irian Jaya dan Timor Timur, baik di daerah perdesaan maupun perkotaan. Satuan wilayah sensus terkecil adalah blok sensus. Data yang dikumpulkan: sama dengan Sensus Pertanian 1973. Konsep pertanian 1983 rumah tangga pertanian mencakup: - Rumah tangga pertanian pengguna lahan: Tanaman padi/palawija, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan, budidaya ikan/biota lain di kolam air tawar/sawah, dan budidaya ikan/biota lain di tambak air payau. - Rumah tangga pertanian yang tidak menggunakan lahan: Budidaya ikan/biota lain di laut, budidaya ikan/biota lain di perairan umum, Penangkapan ikan/biota lain di laut, dan penangkapan ikan/biota lain di perairan umum Pengumpulan data pokok di sektor pertanian, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan, dilakukan melalui pendaftaran rumah tangga pertanian pada blok sensus terpilih. Pengumpulan data dilakukan melalui dua cara, yaitu pencacahan lengkap untuk perusahaan pertanian, KUD, Podes dan pencacahan sampel untuk rumah tangga pertanian. 1993 Sensus pertanian yang keempat. Pendaftaran bangunan dan rumah tangga dilakukan di seluruh Indonesia, baik di daerah perdesaan maupun perkotaan. Pencacahan sampel untuk rumah tangga pertanian hanya dilakukan di wilayah kabupaten daerah perdesaan. Satuan wilayah sensus terkecil adalah wilayah pencacahan (wilcah). Sebagai persiapan pencacahan, setahun sebelumnya dilakukan pemutakhiran wilcah. Konsep rumah tangga pertanian mengalami perluasan dibanding Sensus Pertanian 1983, yaitu untuk konsep rumah tangga pertanian pengguna lahan ditambah dengan usaha budidaya kayu-kayuan kehutanan, dan setiap komoditas yang diusahakan harus memenuhi Batas Minimal Usaha (BMU) sedangkan untuk rumah tangga pertanian tidak menggunakan lahan ditambah dengan usaha pemungutan hasil hutan dan atau penangkapan satwa liar serta usaha di bidang jasa pertanian. 2003 Sensus pertanian yang kelima. Pendaftaran bangunan dan rumah tangga, baik di daerah perdesaan dan perkotaan, dilakukan di seluruh Indonesia pada bulan Agustus 2003, kecuali di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang dilaksanakan pada bulan Mei 2004. Pendaftaran bangunan dan rumah tangga dilakukan secara lengkap di daerah perdesaan dan perkotaaan kecuali daerah perkotaan bukan pantai dan non konsentrasi pertanian dilakukan secara sampel. Pedaftaran bangunan dan rumah tangga dilakukan diseluruh Indonesia pada bulan Agustus 2003, kecuali Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dilaksanakan pada bulan Mei 2004. Satuan wilayah sensus terkecil adalah blok sensus. Setahun sebelumnya dilakukan pemutakhiran blok sensus sebagai persiapan pencacahan. Beberapa perubahan mendasar dibanding Sensus Pertanian 1993: (a) perusahaan pertanian dan KUD tidak dicacah yang dilakukan dalam Sensus Pertanian hanya up dating direktori perusahaan pertanian, (b) kegiatan listing dilakukan secara lengkap di daerah perdesaan dan sampel di daerah perkotaan, (c) penarikan sampel untuk subsektor palawija, hortikultura, perkebunan, peternakan dilakukan per komoditas sedangkan perikanan menurut jenis budidaya atau sarana penangkapan, (d) jumlah komoditas yang dicakup diperluas. Konsep rumah tangga pertanian sama dengan 1993. Pengolahan data dilakukan dengan scanner. 2013 Sensus Pertanian keenam. Pelaksanaan di seluruh wilayah Indonesia pada bulan Mei 2013. Satuan wilayah sensus terkecil adalah Blok Sensus. Dalam pelaksanaan pencacahan lengkap, dilakukan dua kali kunjungan yaitu pertama melakukan pemutakhiran rumah tangga dan identifikasi rumah tangga pertanian pada kunjungan kedua melakukan pencacahan lengkap usaha pertanian. Dalam pelaksanaan pemutakhiran wilayah administrasi dikelompokkan berdasarkan konsentrasi pertaniannya. Untuk daerah konsentrasi usaha pertanian, dilakukan secara door to door, dan untuk daerah nonkonsentrasi secara snowball. Cakupan: usaha pertanian rumah tangga, perusahaan pertanian berbadan hukum, dan lainnya yaitu usaha pertanian yang dikelola bukan oleh perusahaan pertanian berbadan hukum dan bukan oleh rumah tangga. Konsep rumah tangga pertanian adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya melakukan dan bertanggungjawab dalam kegiatan pembudidayaan, pemeliharaan, pengembangbiakan, pembesaran/penggemukan komoditas pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil, atau milik orang lain dengan menerima upah, dan termasuk jasa pertanian. Pengolahan data dilakukan dengan scanner. Usaha Pertanian adalah kegiatan yang menghasilkan produk pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasil produksi dijual/ditukar atas risiko usaha (bukan buruh tani atau pekerja keluarga). Usaha pertanian meliputi usaha tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan, termasuk jasa pertanian. Khusus tanaman pangan (padi dan palawija) meskipun tidak untuk dijual (dikonsumsi sendiri) tetap dicakup sebagai usaha. Rumah Tangga Usaha Pertanian adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya mengelola usaha pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil, atau milik orang lain dengan menerima upah, dalam hal ini termasuk jasa pertanian. Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan jenis usaha di sektor pertanian yang bersifat tetap, terus menerus yang didirikan dengan tujuan memperoleh laba yang pendirian perusahaan dilindungi hukum atau izin dari instansi yang berwenang minimal pada tingkat kabupaten/kota, untuk setiap tahapan kegiatan budidaya pertanian seperti penanaman, pemupukan, pemeliharaan, dan pemanenan. Contoh bentuk badan hukum: PT, CV, Koperasi, Yayasan, SIP Pemda. Perusahaan Tidak Berbadan Hukum atau Bukan Usaha Rumah Tangga Usaha Pertanian adalah usaha pertanian yang dikelola oleh bukan perusahaan pertanian berbadan hukum dan bukan oleh rumah tangga seperti, pesantren, seminari, kelompok usaha bersama, tanksi militer, lembaga pemasyarakatan, lembaga pendidikan, dan lain-lain yang mengusahakan pertanian. Jumlah Sapi dan Kerbau adalah jumlah sapi dan kerbau yang dipelihara pada tanggal 1 Mei 2013 baik untuk usaha (pengembangbiakan/ penggemukan/pembibitan/pemacekan) maupun bukan untuk usaha (konsumsi/hobi/angkutan/perdagangan/ lainnya). Catatan: 1. Dalam publikasi hasil Sensus Pertanian 2003 yang diterbitkan BPS, rumah tangga pertanian adalah rumah tangga yang mengusahakan komoditas dimana setiap komoditas harus memenuhi batas minimal usaha (BMU). 2. Dalam tabel-tabel di booklet ini data rumah tangga pertanian 2003 menggunakan konsep ST2013 dan master wilayah 2013 untuk rumah tangga usaha pertanian. Konsep dan Definisi Sensus Pertanian 2013 Gambaran Umum Usaha Pertanian di Kabupaten Ogan Komering Ulu Berdasarkan angka sementara hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2013, jumlah usaha pertanian di kabupaten OKU sebanyak 39.669 dikelola oleh rumah tangga, sebanyak 6 (enam) dikelola oleh perusahaan pertanian berbadan hukum dan sebanyak 1 (satu) dikelola oleh selain rumah tangga dan perusahaan berbadan hukum. Kecamatan Peninjauan, Lubuk Raja dan Lengkiti merupakan tiga kecamatan dengan urutan teratas yang mempunyai jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak, yaitu masing-masing 7.195 rumah tangga, 5.307 rumah tangga, dan 4.815 rumah tangga. Sedangkan kecamatan Baturaja Barat merupakan wilayah yang paling sedikit jumlah rumah tangga usaha pertaniannya, yaitu sebanyak 1.115 rumah tangga. Sementara itu jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum dan usaha pertanian selain perusahaan dan rumah tangga di kabupaten OKU, untuk perusahaan sebanyak 6 (enam) unit dan lainnya 1 (satu) unit. Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum tersebar di dua kecamatan yaitu kecamatan Lubuk Batang sebanyak 4 (empat) perusahaan dan kecamatan Peninjauan sebanyak 2 (dua) perusahaan. Sedangkan jumlah perusahaan tidak berbadan hukum atau bukan usaha rumah tangga usaha pertanian terletak di kecamatan Lubuk Batang. Perbandingan Jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian Kabupaten OKU Tahun 2003 dan 2013 Berdasarkan angka sementara hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2013, jumlah rumah tangga usaha pertanian di kabupaten OKU mengalami penurunan sebanyak 1.586 rumah tangga dari 41.255 rumah tangga pada tahun 2003 menjadi 39.669 rumah tangga pada tahun 2013, yang berarti menurun sebesar 0,38 persen per tahun. Penurunan terbesar terjadi di kecamatan Baturaja Timur dan penurunan terendah terjadi di kecamatan Ulu Ogan yaitu masing-masing sebesar 50,18 persen dan 8,57 persen selama sepuluh tahun. Komposisi jumlah rumah tangga usaha pertanian di kabupaten OKU selama sepuluh tahun terakhir sedikit mengalami pergeseran. Berdasarkan hasil ST2003, komposisi jumlah rumah tangga usaha pertanian terbesar di kecamatan Peninjauan sebesar 15,00 persen dan komposisi terkecil di kecamatan Muara Jaya sebesar 2,87 persen. Sedangkan berdasarkan hasil ST2013 komposisi jumlah rumah tangga usaha pertanian terbesar masih di kecamatan Peninjauan sebesar 18,14 persen dan komposisi terkecil bergeser di kecamatan Baturaja Barat sebesar 2,81 persen. Tabel 1. Banyaknya Usaha Pertanian Berdasarkan Hasil Sensus Pertanian 2003 dan 2013 di Kabupaten OKU Kode Kecamatan Kecamatan Rumah Tangga Usaha Pertanian Perusahaan Berbadan Hukum Pertumbuhan 2003 2013 2013 Absolut % (1) (2) (3) (5) (7) (8) (9) 052 LENGKITI 5403 4815 0 -588 -10,88 070 SOSOH BUAY RAYAP 2357 1991 0 -366 -15,53 080 PENGANDONAN 2208 1712 0 -496 -22,46 081 SEMIDANG AJI 4488 4055 0 -433 -9,65 082 ULU OGAN 1867 1707 0 -160 -8,57 083 MUARA JAYA 1185 1215 0 30 2,53 090 PENINJAUAN 6187 7195 2 1008 16,29 091 LUBUK BATANG 3621 4415 4 794 21,93 092 SINAR PENINJAUAN 3570 4164 0 594 16,64 130 BATURAJA TIMUR 3970 1978 0 -1992 -50,18 131 LUBUK RAJA 4377 5307 0 930 21,25 140 BATURAJA BARAT 2022 1115 0 -907 -44,86 OKU 41255 39669 6 -1586 -3,84 Perbandingan Jumlah Sapi dan Kerbau di Kabupaten OKU Tahun 2011 & 2013 Pelaksanaan Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) 2011 yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia mulai 1-30 Juni 2011, mencatat populasi sapi dan kerbau kondisi 1 Juni 2011. Populasi sapi dan kerbau hasil PSPK di kabupaten OKU mencapai 12.291 ekor. Sementara itu, dari hasil sensus pertanian 2013, populasi sapi dan kerbau mencapai 9.241 ekor. Selama kurun waktu 2 tahun, terjadi penurunan jumlah sapi & kerbau sebesar 24,81 persen. Penurunan ini disebabkan karena semakin berkurangnya lahan buat makan ternak, banyaknya peternak yang menjual hewan ternaknya atau memotong hewan ternaknya pada saat hari raya. Berdasarkan hasil sensus pertanian 2013 apabila dirinci menurut kecamatan, kecamatan yang memiliki sapi dan kerbau paling banyak adalah kecamatan Peninjauan dengan jumlah populasi sebanyak 3.227 ekor, kemudian kecamatan Lengkiti (1.181 ekor), dan kecamatan Baturaja Timur (1.091 ekor). Sedangkan kecamatan yang memiliki sapi dan kerbau paling sedikit adalah kecamatan Baturaja Barat dengan jumlah populasi sebanyak 151 ekor. Tabel 2. Jumlah Sapi & Kerbau Berdasarkan Hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) 2011 dan Sensus Pertanian 2013 Menurut Kecamatan (ekor) Kode Kecamatan Kecamatan Jumlah Sapi & Kerbau Pertumbuhan 2003 2013 Absolut % (1) (2) (3) (5) (7) (8) 052 LENGKITI 1679 1181 -498 -29,66 070 SOSOH BUAY RAYAP 223 201 -22 -9,87 080 PENGANDONAN 517 474 -43 -8,32 081 SEMIDANG AJI 433 341 -92 -21,25 082 ULU OGAN 214 221 7 3,27 083 MUARA JAYA 425 379 -46 -10,82 090 PENINJAUAN 3982 3227 -755 -18,96 091 LUBUK BATANG 1448 859 -589 -40,68 092 SINAR PENINJAUAN 1120 659 -461 -41,16 130 BATURAJA TIMUR 1370 1091 -279 -20,36


Posted by admin -- 2017-05-08 21:05:55